SELET

SELET

Selet

Karya murni saya

Perasaan yang tak ternoda

Ketika pertama melihatmu dihari senja yang ramai

Engkau melangkah dengan gaya khasmu

Teman-teman yang bersamaku mengeluarkan kata sindiran untukmu

Namun saya melihat sisi lain dalam dirimu

Jantung ini berdetak tak seperti biasanya, tercipta rasa untukmu

Sejak melihatmu, hari-hariku penuh dengan warna-warni

Hati ini mulai bersemi

Tak sabar lagi untuk segera berkenalan denganmu

Tapi, saya melihat gelagat manismu

Menebarkan ketidaksenanganmu untukku

Hal itu tidak membuat saya putus asa

Saya tetap berjuang

Mencari jalan yang menuju ke empat penjuru mata angin

Bertanya kepada Sang Raja Malam

“Apa yang bisa kuberikan untukmu?”

Untuk menyadarkan diri manismu

Bahwa tanpa kau sadari

Engkau telah membuat hari-hariku bersemi

Memenjarakan hatiku dalam jeruji perasaan

Berharap engkau tercipta untukku

Saya termenung dalam kamar sepi yang panas

Mencoba membayangkan diriku berada disampingmu

Saya menyadari

Saya tak punya apa-apa

Saya tak ada apa-apanya

Saya bukan siapa-siapa

Bagai pinang dengan kelapa tidak sepadan

Bagai air dan api tak bisa bersatu

Bagai timur dan barat tak pernah bertemu

Demikianlah diriku dibanding dirimu

Tapi,

Jiwa ini tetap beronta

Perasaan ini tetap membara

Siang malam pikiran ini hanya terarah untukmu

Membuat tugas-tugas sekolahku menumpuk

Sinar kemerah-merahan di ufuk timur menyadarkanku

Bahwa aku juga manusia

Punya rasa dan cinta

Punya hati dan perasaan

Mungkin salah satu bisa kuberikan untukmu

Bisikan sinar itu membuat semangatku yang patah terkulai bangkit kembali

Ketika Sang Surya mengucapkan selamat malam

Saya merangkai kata untukmu

Menuangkan perasaan ini lewat tulisan murniku

Tinta Emas yang kubeli dari uang belanjaku

Di temani sehelai kertas yang kupinjam dari teman sekamarku

Akhirnya terciptalah puisi untukmu

Dengan Judul yang tak seorangpun tahu

Kecuali aku dan kau

“SELET”

“Selet”

Itulah karya murniku untukmu

Perasaan yang tak ternoda

“Selet”

Dengan kalimat pertama yang masih ku ingat

“Seorang anak mengembara dalam keramaian kota”

Saya kirim lewat teman akrabmu

Karena keadaanmu saat itu tidak memungkinkan aku berjumpa denganmu

Kini, hati ini lega

Perasaan yang terpendam tertuang dalam tulisan itu

Berharap engkau mengerti dan memahami

Rangkaian kata-kata yang sulit dimengerti

Berharap engkau meresponi dan menanggapi

Rangkaian kertas yang berbentuk dua hati

Hari berganti hari, minggu berganti minggu

Penantianku tak kunjung selesai

Balasan yang kunanti tak pernah sampai

Mungkin sudah terbawa angin

“Selet”

Tulisan yang penuh arti

Perasaan yang tak ternoda

Di pagi ahab yang sunyi

Teman baikmu mengajakku lari pagi

Untuk melenyapkan penantianku yang  tak berarti

Tapi

Ternyata engkau disana

Ketika kutatap matamu

Hati ini deg-degan, sekujur tubuh ini terasa kaku

Saya berkeliling mencari kekuatan baru

Mengintari kota di tepi pantai

Memberanikan diri untuk mendekatimu

Menyapamu untuk mencairkan suasana yang membeku

Dalam perjalanan pulang pagi itu

Teman-teman setiamu sengaja membiarkan kita berdua

Menyaksikan gelagat kita yang tak seimbang dari jauh

Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu

Saya mulai bertanya ini dan itu

Mulai bercerita kepadamu

Hati ini tulus, polos dan jujur pagi itu

Saat teman dekatku menyindir dan memujimu

Saya tetap melihat sisi lain dalam dirimu

Ada satu kekuatan yang tersembunyi dalam diri manismu

Memilikimu serasa memiliki dunia ini

Betapa bahagianya diriku pagi itu

Berharap itulah awal untuk mengenalmu lebih dalam lagi

Namun,

Tak ada angin tak ada hujan

Saya tak tahu kata-kata apa yang menyinggung perasaanmu

Saya melihat perubahan drastis diraut wajahmu

Engkau berlari meninggalkanku, menuju kumpulan teman-temanmu

Saya hanya terdiam menyaksikanmu meninggalkanku

Sambil mengingat kata-kata yang barusan keluar dari mulutku

Saya benar-benar tidak mengerti……

Ketika kaki ini melangkah masuk ke kamar sesakku

Hati suciku berisik, “Kejujuran yang tidak tepat pada tempatnya dapat membawa malapetaka bagi dunia”

Badan letihku mengaminkannya, sambil berguling

Saya tertidur kembali

“Koreaaa…! Koreaaa…! Koreaaa…!!!”

Kata-kata itu yang membuat saya terjaga dari mimpiku

Ternyata, teman-teman sekamarku memanggilmu demikian

Saya tak tahu

Apa itu pujian atau sindiran???

Pagi Minggu yang indah itu

Merupakan Awal dan Terakhir aku bersamamu

Dengan hal yang tidak ku tahu

Apa yang salah dariku pagi itu

Hari-hari yang berlalu begitu cepat

Menyadarkan diriku yang tak berdaya ini

Bahwa saya bukan yang terbaik untukmu

Namun,

Untuk memastikan keraguanku itu

Saya sabar menunggumu dari latihan ekstrakurikulermu

Walaupun sedikit mengganggu konsentrasimu waktu itu

Mengejarmu, mengiringmu sampai ke rumah barumu

Di persimpangan jalan kita berpisah

Satu kata keluar dari bibir merahmu, “Tidak!”

Keraguanku sudah pasti, engkau akan menolakku

Karena air dan api tak mungkin bersatu,

Pinang dengan kelapa tidak mungkin sepadan

Apalagi Timut dan Barat tidak pernah bertemu

Sang Surya mengucapkan “selamat tinggal”

Diiringi malam yang gelap dengan awan kelabu

Kicauan Merpati punya tetangga menghibur hatiku

Angin malam bergerimis berisik ditelingaku

“Turun Status”

“Selet”

Rangkaian kata-kata yang tak terbalas

Perasaan yang tak ternoda

Kini, beratus hari sudah berlalu

Bertahun-tahun sudah terlewati

Engkau terkubur dalam ingatanku

Berbekas dalam sanubariku

Berharap engkau bahagia dalam hidupmu

Semoga cita-citamu tercapai bersama pujaan hatimu

Tanpa kusadari, Foto cantikmu dengan boneka besarmu di jejaring sosial punyamu

Mengingatkan aku akan masa laluku

Perasaan yang sudah terkubur lima tahun yang lalu

Kini hidup kembali

Tidak untuk memilikimu

Tetapi untuk memiliki kembali karya murniku untukmu

“Selet”

Perasaan yang tak ternoda

Saya memberanikan diri untuk meng”Add” dirimu

Berharap seger mengonfirmasi diriku sebagai teman barumu

Demam pertemanan di dunia maya

Membuat saya kecanduan online

Dari update statusmu saya mengetahui siapa dirimu

Foto-fotomu mengatakan engkau semakin hari semakin cantik dan manis

Betapa banyak kaum Adam yang mengincarmu

Apalagi dengan profesi bergengsimu

Hati ini hanya berisik

“Berbahagialah orang yang memilikimu”

Wajahmu mengingatkanku dengan karyaku dulu

Dengan masa laluku

“Selet”

Perasaan yang tak ternoda

Saya rindu memilikinya kembali

Saya rindu membacanya kembali

Saya rindu mengingat diriku

Ketika kata “Selet” tercipta dengan rangkaian kata-kata yang sulit dimengerti

Saya berharap engkau dapat mengembalikannya kepadaku

Walau tak pernah berjumpa, didunia maya awal-awalnya engkau terlihat akrab

Engkau memberikan nomor ponselmu kepadaku, walaupun sekarang sudah kadarluwarsa

Ketika saya menelponmu engkau meresponnya dengan ciri khasmu

Saya membaca isyarat bersahabat darimu

Engkau mulai berani minta tolong padaku

Saya suka hal itu

Tapi tidak bisa melakukannya karena engkau mengatakannya diwaktu yang tidak tepat.

Hari-hari berlalu begitu cepat

Ditambah kesibukkanmu di dunia profesimu

Membuat keakrabanmu yang dulu mulai pudar dimakan waktu

Saya juga mulai jarang mampir di Berandamu

Walau sesekali mengomentari status menarikmu

Saya membaca isyarat itu,

Sejak engkau mengomentari salah satu foto mesra punyaku

Sejak engkau mengetahui bahwa aku belum melanjut

Saya tidak peduli akan hal itu

Karena saya hanya ingin karya murniku

“Selet”

Perasaan yang tak ternoda

Beberapa bulan yang lalu…..

Ketika saya bertanya perihal tanggal rahasia dalam hidupmu

Mengutarakan niatku untuk memiliki “Selet” karya murniku

Di tambah inbox yang saya kirim lewat akun samaranku

Engkau meresponnya dengan keras….

Inboxnya tak pernah dibalas, padahal itu hanya pemancing isyarat bersahabatmu dulu

Engkau menjawab pertanyaanku lewat chattingan sambil menuduhku BERLEBIHAN

Tanggal rahasia bertemu dan jadian dengan pujaan hatimu, hanya berpaut tiga hari

“Saya hanya pengen tahu aja, saya tak  bermaksud berlebihan” itulah pembalaan yang kukirim untukmu

Salahkah aku bila aku tahu?

Salahkah aku bila ingin bertanya denganmu?

Ada apa denganmu, kenapa engkau tiba-tiba begitu?

Satu Minggu sejak kejadian itu…..

Saya melacak namamu lewat mesin pencarian FB punyaku

Saya pengen tahu perkembangan terakhirmu

Untuk mencari tahu ada apa denganmu???

Tetapi akunmu tidak pernah muncul

Saya mencoba mencarinya lewat mesin pencari google

Tetapi tetap tidak ada

Ternyata

Engkau telah menutup akun FBmu

yah….

Akun FBmu yang sudah ada bertahun-tahun kini kau tutup

Hati ini bertanya

Ada apa? Kenapa??

Apa ada kaitannya dengan kejadian seminggu yang lalu?

Atau

Mungkin engkau lagi sibuk dengan tugas akhirmu?

Moga-moga engkau tak ada apa-apa

Moga-moga engakau tak ada masalah

Karena

Saya hanya ingin karya murniku

“Selet”

Perasaan yang tak ternoda

Kembali lagi…

Saat kata-kata ini terurai

Hati ini memutuskan

Untuk berjumpa denganmu

Karena aku dan kau tinggal dalam satu kota.

NB : “Jika orang yang saya maksud membaca tulisan ini, jangan tinggalkan komentarmu tetapi tinggalkanlah rangkaian kata-kata yang tertulis dalam puisi “Selet” yang pernah kuberikan untukmu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s