Dia Menangis


Malam ini tanggal 30 Agustus 2010 dia menangis. Awalnya saya ingin menelponnya, tapi sayang nomor dia sibuk terus. Dia hanya membuat nomor saya menunggu. Karena gak mau disuruh menunggu dengan irama “kartu hallo” akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengganggunya. Beberapa menit kemudian dia balik sms saya untuk menanyakan kabar saya. Ketika saya menanyakan perihal nomornya sibuk, dia bilang sedang mengobrol dengan keluarga di kampung. Saya mempercayainya.

Tak lama kemudian saya menghubunginya lagi…..wow….wow…. ternyata dia lagi ngobrol dengan seseorang….eh…  dia bo’ongin saya. Tidak mau di bo’ongin seperti itu saya mencoba meminta pertanggungjawabannya. Namun, karena dia agak keras kepala dia tetap tidak mau ngaku. Saya udah bosan dengan plin-plannya akhirnya saya matiin teleponnya.

Saya tahu, mungkin saya over curiga ke dia dan bahkan saya udah mulai masuk tahap keterlaluan. Saya menyadari hal itu tetapi saya tidak terima kalo saya di bohongin. Kembali ke dia, dia selalu mengganggap saya tidak mempercayainya. Saya mempercayainya hanya saja saya tidak mau di bo’ongi seperti itu. Saya juga melihat keraguan dalam hatinya. Dia masih meragukan cintaku padanya. Keraguan itu ada benarnya, karena sampai detik ini hati kecil saya berkata, “Apakah saya mencintaimu?”

Mungkin dia tak terima diberlakukan seperti itu, akhirnya dia hubungi balek. Dia bilang masalah ini diselesaikan besok karena pulsanya tidak ada. Saya penasaran….mumpung masih ada bonus nelpon gratis akhirnya saya yang hubungi ke nomornya. Ketika saya tanya apa jalan keluarnya? Akhirnya…..dengan suara mantap dan pasti dia mau mengakhiri hubungan kami. “Okey…! kalau itu maumu” demikian saya membalasnya, tidak mau kalah. Saya mengingatkannya kembali bahwa dari awal hubungan kita saya pernah berkata, “Jika engkau mencintai saya kamu harus lebih mencintai Tuhan Yesus lebih dari cintamu padaku, dan kalau kelak hubungan kita putus jangan ada rasa benci diantara kita…. kamu anggap saya sebagai saudaramu dan saya anggap kamu sebagai saudaraku sendiri”. Okey apa keputusanmu sudah final? Demikian saya bertanya….

Tetapi disebelah sana dia diam. “Saya tadi bilang itu karena kamu tidak mempercayai saya” demikian dia menjawab denga suara tersendat-sendat. Saya merasakan kesedihan dalam hatinya, air matanya membasahi pipi manisnya yang tak pernah disentuh oleh tangan-tangan nakal. Dia menangis. “Itu hakmu, terserah kamu! Kalau kamu mau ngakhiri hubungan ini jangan sms saya besok pagi dan seterusnya, tetapi jika kamu mau hubungan ini tetap berlanjut kamu harus sms saya besok pagi. Lupa berarti putus!” Demikian saya menutup teleponnya.

Mimpi indah menemani tidurku malam ini. Matahari sudah di ufuk timur ketika saya dibangunkan. Satu sms diterima, “Selamat pagi! Apa kabar Cinta?”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s